Unsur-unsur Asasi Kepemimpinan, Belajar dari Masa Lalu

Umat mesti hati-hati dalam memilih pemimpin. Pemimpin itu tidak cukup hanya mengandalkan kebaikan dan kepintaran

Unsur-unsur Asasi Kepemimpinan, Belajar dari Masa Lalu
ilustrasi Dinasti Abbasiyah (Yahyâ ibn Mahmûd al-Wâsitî)

KETIKA membaca lanskap sejarah Islam, yang dipenuhi oleh dinamika kepemimpinan yang silih berganti –baik yang sukses maupun gagal-, kita akan menemukan beberapa unsur yang harus dipenuhi, agar kepemimpinan bisa berdiri tegak.

Di antara unsur itu ialah, kebenaran, kebaikan, keberanian, kecakapan, menajerial, kesabaran (ketahanan), dan kecerdasan. Jika harus dipilih –berdasarkan skala prioritas-, maka yang patut ada ialah keberanian, kesabaran dan kemampuan manajerial (baik menggerakkan atau mengatur pasukan).

Bila pemimpin baik dan benar, namun tidak memiliki keberanian, kesabaran dan kemampuan manajerial, maka ia hanya baik bagi diri sendiri, namun tidak bisa menebarkan kebaikan pada orang lain.

Kalau meminjam istilah al-Qur`an, ia hanya masuk dalam kategori ‘shālih’ (baik secara pribadi), bukan ‘mushlih’ (mampu membuat perbaikan/mentransfer kebaikan pada orang lain’. Itu sebabnya dalam sejarah, pemimpin yang baik dan benar, namun penakut, biasanya malah akan menjadi bumerang bagi negara.

Baca: Enam Dalil Memilih Pemimpin dalam Islam

Sebagai contoh misalnya –tanpa membatasi-, apa yang terjadi pada pemimpin Dinasti Abbāsiyah terakhir, al-Musta`shim Billāh. Secara personal dia memang baik. Ia rajin beribadah, berakidah lurus, banyak membaca al-Qur`an, dermawan. Lihat bagaimana Imam Ibnu Katsīr menggambarkan sosoknya:

وقد كان حسن الصورة جيدالسريرة صحيح العقيدة مقتديا بأبيه المستنصر في المعدلة وكثرة الصدقات وإكرام العلماء والعباد

“(al-Musta`shim) memiliki citra, jiwa, akidah yang baik. Ia meneladani bapaknya, al-Mustanshir dalam hal keadilan, banyaknya bersedekah, dan memuliakan ulama dan orang-orang yang beribadah.” (al-Bidāyah wa al-Nihāyah, 13/204).

Pada tahun 656 H/1258 M, kebaikan dan kebenaran yang diyakininya tak mampu menyelamatkan kota Baghdad dari serbuan Tartar, yang dikomandoi Hulaghu Khan.

Apa ada yang salah dengan kebenaran dan kebaikan? Sebenarnya tidak. Tapi bagi seorang pemimpin, keduanya adalah bagian dari unsur-unsur penting yang dimiliki pemimpin. Keduanya harus beriring, keberanian, kesabaran dan kecakapan dalam manajerial.

Karena tak cakap dalam urusan politik, akhirnya ia salah memilih wazīr, Ibnu al-`Alqami, yang malah bersekongkol dengan pasukan Hulagu khan. Karena tak mempunyai keberanian, ia setuju ketika al-`Alqami mengusulkan untuk mengurangi jumlah pasukan, dan memilih perdamaian dengan Tartar.

Kalau keberanian sudah tanggal, bagaimana mungkin bisa sabar. Akibatnya jelas. Kota Baghdad sebagai mercusuar peradaban dunia kala itu, hangus diluluhlantakkan oleh pasukan Mongol. Sebuah referensi berharga bagi siapa saja yang memilih pemimpin.

Demikian juga sebelumnya, ketika Raja Damaskus Nashir Yusuf mendengar kabar bahwa Miyafarqin sudah diduduki tentara Mongol dan Emirnya Muhammad Al-Ayyubi terbunuh, dan Kota Aleppo dan Harem takluk. Apa yang dilakukannya?

Baca: Hindari Memilih Pemimpin Berwatak Kekanakan

Kondisi demikian membuatnya bingung. Mau melawan takut; mau menyerah juga risikonya juga besar. Sebab ia tahu bahwa tentara Mongol tidak pandang bulu dan suka menyalahi janji. Siapapun bisa dibantai oleh mereka. Akhirnya dia mengumpulkan para panglima untuk mengatasi kondisi genting ini. Apa keputusannya?

Sungguh pengecut. Ia memutuskan untuk lari dari negeri Damaskus. Tidak ada sama sekali upaya untuk melawan atau mempertahankan Negara. Akhirnya, penduduk dan Kota Damaskus menjadi korban keganasan tentara Mongol. Inilah akibat ketika memiliki pemimpin pengecut.

Maka tidak salah jika Imam Al-Mawardi dalam kitab “al-Ahkām al-Sulthāniyyah” menentukan beberapa syarat bagi pemimpin ideal. Di antaranya: adil, berilmu, berpanca indra sehat, berbadan sehat dan yang tak kalah penting adalah pemberani. Sebab, kebaikan, keadilan, ilmu dan berbagai penunjang lain pemimpin lainnya hanya bisa berjalan dengan baik ketika ditopang dengan keberanian.

Dengan demikian, umat mesti hati-hati dalam memilih pemimpin. Pemimpin itu tidak cukup hanya mengandalkan kebaikan dan kepintaran. Perlu ada unsur-unsur lain yang perlu dimiliki misalnya keberanian. Bila tidak, kita hanya mengulang peristiwa sejarah mengenai pemimpin gagal. Dampaknya jelas, masyarakat yang dipimpin akan mengalami kesengsaraan.*/Mahmud Budi Setiawan

Sumber : Hidayatullah

Tags: , , , , ,

Sebarkan artikel berikut :

Baca Juga Berita Menarik Lainnya !