Insinyur India Sulit Mendapat Pekerjaan Layak

Insinyur India Sulit Mendapat Pekerjaan Layak

Media—Santosh Gurav mendapatkan gelar sarjana di bidang teknologi dari perguruan tinggi papan menengah di India bagian barat tahun lalu dalam jurusan teknik elektro dan berharap akan mendapatkan pekerjaan di industri automasi.

Enam bulan setelah lulus, pemuda berusia 27 tahun itu bekerja memperbaiki mixer, kipas angin meja dan perangkat rumah tangga elektronik lainnya di sebuah kios kecil di kota Pune. Ketika bisnis sedang baik, dia mengais lampu-lampu LED rusak dari pengepul rongsokan, memperbaikinya, lalu menjualnya kembali. Dia bisa mendapatkan uang sekitar $50 (kira-kira 713.000 rupiah) sebulan. Uang sebanyak itu hanya cukup untuk membayar uang sewa rumah yang ditempatinya bersama 2 orang teman.

“Saya bahkan belum mulai mencicil pinjaman pendidikan saya,” kata Gurav, merujuk utang hampir $4.000 yang harus dibayarnya yang dipakai untuk membiayai kuliah tingkat sarjana.

Gurav hanyalah satu dari ratusan ribu insinyur India yang belum mendapatkan pekerjaan layak usai menempuh pendidikan tinggi, lapor Reuters Selasa (12/3/2019).

Pada tahun 2014, Perdana Menteri Narendra Modi meluncurkan program “Make in India” yang bertujuan mendorong industri manufaktur guna menyerap jutaan tenaga kerja.

Empat tahun kemudian pengaruh program itu terhadap penciptaan lapangan kerja tidak jelas dan pertumbuhan di sektor manufaktur juga tampak lambat. Hal itu antara lain disebabkan tidak adanya reformasi di bidang pertahanan dan ketenagakerjaan.

Pihak pemilik perusahaan sering kali mengeluhkan minimnya ketrampilan kerja di kalangan lulusan sarjana teknik dan teknologi, kata Varun Aggarwal, seorang ahli kelistrikan dan salah satu pendiri Aspiring Minds, sebuah firma penilai ketrampilan kerja karyawan.

“Banyak yang bahkan tidak bisa menggarap basic code,” kata Aggarwal mencontohkan salah satu kekurangan sarjana bidang komputer.

Tidak hanya itu, banyak sarjana yang kemampuan berbahasa Inggrisnya sangat minim. Maklum, mereka umumnya berasal dari daerah pedesaan di mana mereka mempelajari bahasa lokal dan kurang mempelajari bahasa Inggris.

“Saya menonton filim-film dan membaca koran berbahasa Inggris untuk meningkatkan kemampuan, tetapi kebanyakan pemilik perusahaan menginginkan lulusan sarjana… Dan mereka juga menuntut ketrampilan bahasa Inggris, yang saya tidak punya,” kata Ankush Karwade, 22, menceritakan pengalamannya mencari pekerjaan. Sebagai seorang lulusan diploma bidang teknik, ijazahnya kurang dihargai pemilik usaha.

Namun, memiliki gelar master di bidang teknik tidak menjamin seseorang mudah mendapatkan pekerjaan layak di India.

Gayatri, wanita berusia 24 tahun, mendapatkan gelar masternya di bidang teknik empat bulan silam, di bawah paksaan kedua orangtuanya. Dia mengaku bahwa sebenarnya ingin melanjutkan pendidikan di bidang musik klasik India.

“Ayah saya ingin saya jadi insinyur, saya lakukanlah. Sekarang tidak ada pekerjaan,” kata Gayatri. Sebuah perusahaan yang didatanginya di sebuah job fair justru menawarinya pekerjaan di posisi layanan pelanggan dengan gaji sekitar $140 (hampir dua juta rupiah) perbulan.

“Saya tidak mendapatkan gelar ini (master) hanya untuk duduk di call center,” ujar wanita muda itu.*

Sumber : Hidayatullah

Tags:

Sebarkan artikel berikut :

Baca Juga Berita Menarik Lainnya !