Reuni yang Bikin Meriang

Ribuan orang mengerubutinya sepanjang jalan menuju parkir mobil sambil meneriakkan "Prabowo..Presiden"

Reuni yang Bikin Meriang
Diperkirakan lebih 7 juta manuasia mengikuti Reuni 212 di Monas Jakarta, Ahad (02/12/2018_

Oleh: Dhimam Abror Djuraid

 

“Pohon mahoni buahnya jarang, kita reuni sana meriang”

 

PANTUN itu diucapkan Ustad Haikal Hasan yang Ahad pagi (02/12/2018) menjadi pemandu acara Reuni 212 di Lapangan Monas bersama komedian senior Deddy “Mi’ing” Gumelar.

Audiens pun tertawa bergemuruh dan bertepuk tangan riuh. Suasana reuni yang semula banyak disebutkan akan penuh ketegangan dan bahkan bisa jadi ada kekerasan, ternyata malah penuh kegembiraan dan gelak tawa. Tentu saja ada tangis dan derai air mata ketika doa-doa tahajud di sepertiga malam dilantunkan dan doa qunut nazilah subuh dikumandangkan.

Tapi, begitu acara resmi dimulai dan Haikal bersama Mi’ing mengambil alih panggung maka suasana menjadi cair.

Pagi yang dingin menjadi hangat oleh candaan Haikal dan Mi’ing. Haikal dengan logat Betawi yang kental kerap melontarkan pantun yang provokatif tapi bikin gerr.

Salah satu ungkapannya yang khas adalah “kelar hidup lo”. Uangkapan ini memancing tawa dan tepuk tangan karena oleh Haikal diasosiasikan dengan perhelatan politik 2019 dan ia merujuk pada inkumben meskipun tidak menyebut nama.

Baca: ‘Spirit 212 Tak Akan Pernah Padam’

Pantun pohon mahoni juga jelas-jelas ditujukan ke “sebelah”. Haikal mengatakan bahwa banyak yang ketakutan karena reuni ini. Ada juga yang panas-adem meriang menyaksikan reuni.

Berbagai cara dilakukan untuk menggagalkan reuni atau, paling tidak, menggembosi supaya peserta minim. Tapi, kata Haikal, mentalitas para Mujahid 212 tak gentar. Sebaliknya, semakin ditekan dengan intimidasi dan teror malah semakin banyak yang datang.

“Ikan bawal ikan jambrong. Lo jual gue borong,” teriak Haikal disambut tepuk histeris dan teriakan “Allahu Akbar” oleh audiens.

Mi’ing menukas, “Gue jadi heran, lo ini lucu kok dibilang radikal”.

“Hei Bro, di mata penjajah, Teuku Umar, Tjoet Njak Dhien, Diponegoro, Imam Bonjol, itu radikal. Jadi, yang nganggap gue radikal berarti dia penjajah,” kata Haikal.

Sepanjang mata memandang dari panggung di sebelah barat tugu Monas, yang terlihat adalah lautan manusia berwarna putih dan ribuan bendera tauhid hitam dan putih dengan berbagai ukuran, mulai dari yang kecil sampai yang jumbo.

Reuni 212.

Sumber : Hidayatullah

Tags: , , , , ,

Sebarkan artikel berikut :

Baca Juga Berita Menarik Lainnya !